Alamat : Rumah Bekam Al Hanif
Perumnas BKP Blok J No. 51, Bukit Kemiling Permai, Kemiling,
Kota Bandar Lampung, Lampung 35152 [ HP/WA: 0823-1168-5474 ]
📌 Rute/Google Map ke Lokasi:📌
🕘 Waktu : 🕣
Jika tidak ada jadwal keluar InsyaAllah Kami buka layanan terapi Bekam setiap hari,
dari jam 09.00 sd jam 20.30 WIB
Konfirmasi Sebelum datang Ke Lokasi Melalui HP/WA: 0823-1168-5474(Ust.Giri)
5 LANGKAH BEKAM (HIJAMAH) YANG EFEKTIF
Oleh : dr.Abu Hana
Seseorang yang akan membekam pasien
harus mempersiapkan dirinya sendiri agar jangan sampai terjadi “malpraktek
bekam” yang disebabkan oleh “human error” dikarenakan kelalaian dan kurangnya
pengetahuan tentang penyakit dan seluk beluk bekam itu sendiri. Adapun bentuk
persiapannya adalah sebagai berikut :
- Meningkatkan ketaqwaan kepada Allah Subhaanahu wata’ala
dengan senantiasa mengikuti majelis ilmu, mempelajari aqidah dan tauhid,
akhlak, adab, fiqih serta ilmu-ilmu yang bermanfaat untuk dirinya.
Mengikhlaskan keyakinan bahwa kesembuhan hanyalah milik Allah Subhaanahu
wata’ala.
- Mempelajari cara mendiagnosis penyakit dan
patofisiologisnya (penyebab, mekanisme, kemungkinan terapi, dan efek yang
mungkin akan timbul akibat penyakit tersebut) serta mempelajari prosedur
sterilisasi peralatan yang akan digunakan.
- Mempelajari ilmu bekam (hijamah) secara professional.
- Menjaga kesehatan, berwudhu dan berdo’a jika akan
membekam.
- Mempersiapkan peralatan dan sarana yang diperlukan
untuk bekam.
Untuk memperoleh hasil bekam yang
maksimal maka diperlukan langkah-langkah sistematis agar bi idznillah
didapatkan kesembuhan yang lebih baik:
Langkah pertama : Mendata Pasien dan Melakukan Anamnesis (Wawancara)
Catatan data pasien sangatlah
penting untuk merekam identitas, diagnosis penyakit, terapi yang sudah diberikan
serta mengetahui perkembangan penyakitnya. Data yang perlu dicatat antara lain
adalah :
- Identitas pasien, meliputi : Nama lengkap, umur, jenis
kelamin, alamat dan status perkawinan.
- Identitas keluarga, meliputi : kedudukan dalam
keluarga, pekerjaan dan alamat tinggal. Beberapa penyakit berkaitan erat
dengan pekerjaan/lokasi pemukiman.
Buatlah data pasien tersebut dalam
suatu kertas khusus (status pasien) dan Register Pasien yang
ditempatkan di rak agar memudahkan apabila pasien tersebut control atau melanjutkan
terapi. Buatlah kartu dan nomor registrasi pasien sehingga dapat tertata dengan
baik.
Tujuan melakukan anamnesis
(wawancara) adalah untuk mengetahui maksud pasien berobat, serta mendalami
penyakit dan keluhan yang dialami. Anamnesis yang benar dan lengkap sudah dapat
mendiagnosis penyakit sampai 80 %. Apa saja yang kita tanyakan ?
- Keluhan utama, yakni keluhan yang menyebabkan seseorang
berobat untuk dibekam. Misalnya sakit kepala,
- Keluhan tambahan (keluhan penyerta), yakni keluhan lain
yang mengiringi keluhan utama tersebut, seperti keluhan sakit kepala
tersebut disertai kaku di leher, mata kabur dan sebagainya.
- Riwayat penyakit dahulu, yakni penyakit yang masih
berkaitan dengan keluhan sekarang, seperti 2 tahun yang lalu pernah jatuh
dan kepala terbentur, atau keluhan sakit kepala serupa disertai dengan
hipertensi, dan lain-lain. Begitu juga riwayat alergi dan
penyakit-penyakit yang diturunkan seperti diabetes juga ditanyakan.
Langkah
kedua : Melakukan pemeriksaan dan menentukan Diagnosa penyakit
Pemeriksaan ini berguna untuk
membuktikan apa yang dikeluhkan pasien tersebut sesuai dengan kelainan fisik
yang ada. Adakalanya pasien mengeluhkan sesuatu tetapi tidak ditemukan kelainan
fisik apapun dan begitu juga sebaliknya. Pemeriksaan fisik tersebut adalah
sebagai berikut :
- Pemeriksaan Umum, meliputi
: tekanan darah, nadi, temperatur tubuh, pernafasan, lidah iris
(iridology), telapak tangan (palmistry) dan lain-lain. Yang terpenting
adalah bisa mengetahui penyakitnya, boleh dengan cara diagnosis medis
maupun secara tradisional atau gabungan keduanya.
- Inspeksi (Pengamatan), pendengaran dan penciuman dari
organ yang dikeluhkan pasien.
Perhatikan perubahan warna kulit, bentuk, tekstur atau perubahan lainnya
yang kasat mata. Amati pula ekspresi wajah, bentuk dan sikap serta cara
berjalan pasien.
- Palpasi (Perabaan, penekanan) atau perkusi (pengetukan)
disekitar tubuh yang mengalami keluhan. Periksalah
apakah terdapat benjolan keras/lunak, atau dengan penekanan apabila terasa
sakit menunjukan penyakitnya termasuk hiper (kelebihan fungsi) dan jika
dengan penekanan pasien merasa enak berarti penyakitnya termasuk hipo
(kekurangan fungsi). Begitu juga dengan pengetukan pada organ apakah
terjadi perubahan, seperti paru-paru yang seharusnya berbunyi sonor, pada kondisi
tertentu berubah menjadi pekak karena terdapat tumor paru-paru. Terkadang
kita perlu menggerakkan bagian tubuh yang sakit, apakah terdapat
keterbatasan gerak pada tangan/kaki, kekakuan, nyeri ketika digerakkan dan
lain-lain.
- Auskultasi, yakni
pemeriksaan dengan menggunakan stetoskop untuk mengetahui adanya
kelainan pada rongga dada (jantung dan paru-paru) serta rongga perut
(lambung, usus, dll).
- Jika diperlukan lakukanlah pemeriksaan penunjang, seperti laboratorium darah, urin dan tinja, rontgen
(radiologi), EKG, CT-Scan, MRI dan sebagainya.
Setelah diketahui keluhannya melalui
anamnesis dan telah dilakukan pemeriksaan maka dapat diambil kesimpulan
mengenai penyakit yang dialami oleh pasien (diagnosa). Diagnosa penyakit ini
sebagai modal dasar untuk menentukan langkah selanjutnya mengenai jenis terapi
apa yang cocok dilakukan, titik bekam mana yang akan dipilih serta herbal
penunjang apa yang memang diperlukan.
Langkah
ketiga : Menentukan Titik Bekam
Dalam menentukan titik bekam
terdapat beberapa versi (madzhab) ada yang berdasarkan lokasi keluhan,
berdasarkan titik akupuntur dan ada yang mendasarkan pada anatomi dan
patofisiologi organ yang bermasalah. Sampai sekarang belum ditemukan kata
sepakat diantara beberapa madzhab tersebut, penulis sendiri bermadzhab pada
titik bekam yang didasarkan pada anatomi dan patofisiologi organ yang
bermasalah.
- Dalam memilih titik bekam ini, maka tidak perlu memakai
banyak titik. Sebab titik bekam yang banyak belum tentu lebih baik dan
efektif dibanduingkan dengan satu titik. Selain itu banyak titik akan
menimbulkan rasa sakit yang lebih banyak. Kami menyarankan untuk
membatasinya maksimal sampai 7 titik.
- Ada sekitar 12 titik utama yang disebutkan dalam hadits
(disebut titik bekam nabi), selebihnya merupakan pengembangan dari itu.
Diantaranya adalah Titik di kepala (Ummu Mughits, Qomahduwah, Yafukh,
Hammah, dzuqn, udzun), Leher dan punggung (Kaahil, al-akhda’ain,
alkatifain, naqroh,munkib), kaki (Wirk, Fakhd, Zhohrul qodam, iltiwa’) dan
lain sebagainya. (Keterangan : penjelasan letak titik bekam dan
fungsinya masing-masing InsyaAllah akan kami jelaskan pada edisi yang akan
datang)
- Beberapa titik yang terlarang untuk dilakukan bekam
adalah : (a). Pusat kelenjar limfa atau getah bening di leher samping
bawah telinga kanan dan kiri (limfonodi servikalis), di ketiak kanan dan
kiri (limfonodi axillaris), dan dilipatan selangkangan kanan dan kiri
(limfonodi inguinalis), (b). Otak kecil bagian bawah (akhir tengkorak
belakang bagian bawah), (c). leher depan di bagian tenggorokan. (d). ulu
hati (e). lubang alami seperti pusar, dubur, putting payudara, telinga,
dll (f). lutut belakang, depan dan samping (g).terlalu dekat dengan
mata (h). perut dan pinggang wanita hamil (i).tepat pada varises,
tumor/kanker, dan bagian yang bengkak pada kasus gout/asam urat.
Langkah
keempat : Mempersiapkan peralatan dan Pasien
1. Mempersiapkan
peralatan bekam dan ruangan
Yang paling utama adalah menyiapkan
agar alat-alat yang digunakan bisa steril mengingat banyak penyakit yang
dimungkinkan untuk menular melalui perantaraan alat bekam seperti pasien
hepatitis dan HIV-AIDS.
- Alat yang digunakan adalah : kop/gelas bekam dan
handpump (pompa), pisau bedah, bisturi, skapel, klem, kain duk, sarung
tangan, masker wajah,mangkok/cawan, nampan, tempat sampah, meja, kursi dan
bed periksa. Jika memungkinkan diusahakan memiliki tabung oksigen untuk
mengantisipasi apabila terjadi pingsan/syok.
- Bahan yang digunakan adalah : kassa steril,
iodine,desinfektan, larutan H2O2, minyak zaitun dan minyak habbatussauda’.
- Untuk mensterilkan alat-alat yang digunakan tersebut
maka setelah dicuci dan dibersihkan lalu dimasukkan kedalam sterilisator.
Yang umum digunakan adalah dengan teknologi pemanasan dan ozone.
- Pisau bedah, sarung tangan, masker wajah hanya boleh
digunakan sekali pakai, setelah selesai satu pasien maka langsung dibuang.
- Ruangan harus bersih, cukup penerangan, cukup ventilasi
dan aliran udara serta tidak pengap. Dilarang menggunakan kipas angin di
ruangan pada saat dilakukan bekam. Jangan melakukan bekam di tempat
terbuka, tempat yang berdebu atau persis dibawah blower AC.
- Tidak boleh menggunakan jarum, silet, gelas minum/bekas
botol, tanduk, tissue dan kain lap untup melakukan bekam. Walaupun tampak
bersih namun peralatan tersebut bukan merupakan peralatan standar medis
untuk suatu tindakan bedah minor seperti bekam.
- Disarankan setiap pasien memiliki kop bekam sendiri.
Bagi penderita HIV-AIDS (ODHA), hepatitis (sakit kuning), pecandu narkoba
dan penyakit menular lainnya wajib memiliki peralatan bekam sendiri
dan tidak boleh digunakan pasien lain walaupun sudah disterilkan.
2. Mempersiapkan
pasien
Pasien perlu dipersiapkan terlebih
dahulu baik secara fisik maupun mental. Pasien perlu mendapatkan penjelasan
mengenai dasar pengobatan bekam (hijamah) sebagai tehnik pengobatan yang
dituntunkan Rosulullah Shallallaahu ‘alaihi wasallam, cara membekam, manfaat,
efek samping yang mungkin terjadi baik ketika sedang dibekam maupun setelahnya,
kontraindikasi (pantangan) bekam, serta proses kesembuhan dan yang lainnya.
- Pasien diberikan support agar tidak gelisah dan
takut terutama bagi yang baru pertama kali dibekam. Berikanlah
penjelasan bahwa bekam tidaklah sakit dan agar lebih tenang bimbinglah ia
agar berdo’a memohon kekuatan dan kesembuhan hanya kepada Allah Subhaanahu
wata’ala serta berwudhulah terlebih dahulu.
- Bagian tubuh yang akan dibekam sebaiknya ditutup dengan
kain duk steril yang berlubang di bagian tengahnya sehingga bekam cukup
dilakukan di daerah tersebut sedangkan bagian lainnya ditutup dengan kain
agar pasien merasa nyaman dan tidak “risih”. Misalnya jika bekam dilakukan
didaerah paha, maka bagian paha kebawah (kaki) hendaknya ditutup dengan
selimut, jika dilakukan didaerah dada maka perut kebawah juga di tutup.
- Disiapkan minuman air putih, madu atau sari kurma untuk
pasien, karena terkadang ketika sedang dibekam pasien merasa haus dan
untuk mengantisipasi jika pasien merasa lemas.
- Bagi pasien yang baru pertama kali dibekam cukup dengan
1-2 titik bekam.
- Pasien wanita harus ditangani oleh ahli bekam wanita dan
pasien laki-laki oleh laki-laki. Untuk menjaga aurat maka hindari membuka
bagian tubuh yang tidak perlu.
- Posisi pasien dan ahli bekam harus nyaman agar pasien
lebih rileks dan bagi yang membekam bisa lebih mudah dan optimal dalam
mencapai titik-titik yang akan dibekam.
f.1. Posisi berbaring miring; untuk
membekam titik pada bagian samping kaki atau tungkai.
f.2. Posisi terlentang; untuk
membekam titik pada daerah muka, leher, dada, perut dan tungkai depan.
f.3. Posisi telungkup; untuk
membekam titik di tengkuk, punggung, pinggang dan tungkai bagian belakang.
f.4. Posisi duduk di kursi dengan
kepala menengadah dan kepala bagian belakang bersandar pada sandaran kursi;
untuk membekam wajah, kepala, dagu dan leher bagian depan.
f.5. Posisi duduk di kursi dan
meletakkan kedua tangannya di meja sambil menopang dagu ; untuk membekam kepala
dan wajah.
f.6. Posisi duduk di kursi dengan
kedua lengan lurus kedepan dan diletakkan diatas meja ; untuk membekam daerah
tangan dan lengan, tengkuk, leher samping, bahu, punggung dan pinggang.
f.7. Posisi duduk di kursi dengan
kepala telungkup miring diatas meja; untuk membekam titik di samping kepala dan
wajah serta leher bagian samping.
Sebenarnya kapan saja anda dibekam
maka tidak menjadi masalah, akan tetapi untuk dan mengurangi efek samping maka disarankan
anda makan 3-4 jam sebelum di bekam, karena jika perut anda kosong (puasa)
terkadang menyebabkan pusing/lemas.
Sebaliknya apabila anda dalam
kondisi perut penuh makanan atau hanya berselang 1 jam setelah makan kemudian
anda dibekam maka beberapa pasien mengeluh mual atau muntah. Hindari berjima’
sebelum bekam, apalagi sesudahnya karena akan menguras banyak energi.
Langkah
kelima : Melakukan Bekam
Berikut adalah tehnik bekam yang
menggunakan metode sayatatan (syartoh) sebagaimana dalam hadits dari Sa’id bin
Jubair, dari Ibnu Abbas, Rosulullah Shallallaahu ‘alaihi wasallam
bersabda : “Kesembuhan itu ada dalam tiga hal; yaitu minum madu, syartoh(sayatan)
alat bekam, dank ay. Namun aku melarang ummatku melakukan kay” (Riwayat
Bukhari dalam Ath-Thibb No.5680 dan 5681 Bab III : Asy-Syifa’ fii Tsalaatsin).
- Mulai dengan do’a dan mensterilkan bagian tubuh yang
akan dibekam dengan desinfektan (misalnya. Iodin)
- Dilanjutkan dengan penghisapan kulit menggunakan
“kop/gelas” bekam, kekuatan penghisapan pada setiap pasien berbeda-beda.
Lama penghisapan selama 5 menit, tindakan ini sekaligus berfungsi sebagai
Anestesi (pembiusan) lokal. Diutamakan mendahulukan bagian tubuh sebelah
kanan dan jangan melakukan penghisapan lebih dari 4 titik bekam sekaligus.
- Dengan menggunakan pisau bedah standar kemudian
dilakukan syartoh /penyayatan (jumlah sayatan 5-15 untuk satu titik
tergantung diameter kop yang dipakai, panjang sayatan 0,3-0,5 cm, tipis
dan tidak boleh terlalu dalam, dilakukan sejajar dengan garis tubuh).
Salahsatu tanda bahwa sayatannya baik adalah sesaat setelah disayat, kulit
tidak mengeluarkan darah akan tetapi setelah disedot dengan alat maka
darahnya baru keluar.
- Lakukan penghisapan kembali dan biarkan “darah kotor”
mengalir di dalam kop selama 5 menit.
- Bersihkan dan buang darah yang tertampung dalam kop dan
jika perlu bisa lakukan penghisapan ulang seperti tadi. Tidak boleh
dilakukan pengulangan sayatan.
- Bersihkan bekas luka dan oleskan minyak habbatus sauda
yang steril. Umumnya bekas bekam akan hilang setelah 2-5 hari.
- Ucapkan Alhamdulillah dan rasakan keajaiban “mukjizat”
medis bekam.
Istirahatlah secukupnya setelah
berbekam, lebih baik lagi tidur. Minumlah air putih, madu, sari kurma atau teh
manis untuk mempercepat pemulihan. Jika ingin makan, usahakan lebih dari satu
jam sesudahnya dan menghindari makan asam, pedas, mie dan minuman
bersoda/berkarbonase. Hindari pula untuk melakukan jima’ setelah bekam.
Anda boleh bahkan dianjurkan mandi
setelah 2 jam melakukan bekam. Sebaiknya menggunakan air hangat untuk
mempercepat proses pemulihan. Hindari untuk menggosok bekas sayatan bekam
dengan sabun secara berlebihan karena selain terasa perih juga akan
memperlambat proses penyembuhan luka.
Umumnya bekas bekam akan hilang
dalam waktu 3 hari sampai 1 minggu setelah bekam tergantung
bentuk dan warna yang ditinggalkan. Untuk mempercepat hilangnya lebam bekas
bekam maka cukup dikompres dengan air hangat.
Harapan kami bagi yang sedang
belajar bekam ataupun sudah ahli dalam bekam untuk tidak meninggalkan
pengobatan medis secara “frontal” atau “membabuta babi” . Sangatlah indah
apabila pengobatan bekam (hijamah) dapat bersinergi dengan pengobatan medis
modern. (Dikumpulkan dari berbagai sumber oleh dr.Abu Hana)
Bandung, 23 Jumadul Ula 1430 H
Al Faqiir Ilallaahi Ta’ala,
dr. Abu Hana El-Firdan